DISSECTION “Storm of the Light’s Bane” (1995): Ketika Menjadi Melodius Adalah Berarti Menjadi Lebih Gelap dan Mengerikan

Dissection Band 1995

Dissection dengan formasi maestro di 1995: Jon Nödtveidt (Vokal, Gitar), Johan Norman (Gitar), Ole Öhman (Drum), dan Peter Palmdahl (Bass). Formasi ini (terutama karena kejeniusan bermusik Jon Nödtveidt) menghasilkan “Storm of the Light’s Bane” (1995) sebagai puncak karya mereka. Sebuah puncak yang tidak pernah lagi tercapai baik oleh Dissection sendiri maupun band lainnya.

Dissection Storm of the Lights Bane

Article written by: Riki Paramita

DISSECTION adalah sebuah nama besar tidak hanya di skena Black Metal Swedia, melainkan juga di skena Black Metal dunia secara global. Disanjung dan dipuji setinggi langit karena pendekatan Melodic Black Metal mereka yang inovatif sekaligus mengerikan, dan banyak menginspirasikan band-band sesudah mereka. Dissection juga mempunyai penjualan album yang relatif tinggi untuk ukuran Black Metal, ditambah dengan cerita-cerita miring di seputar band ini yang justru membuat status mereka menjadi semakin kvlt dan misterius. Cerita tentang Jon Nödtveidt dan Dissection tidaklah kalah miring apabila dibandingkan dengan cerita Mayhem atau band-band ‘jahat’ lainnya dari Norwegia. Jon Nödtveidt, sang gitaris dan vokalis Dissection, tidaklah hanya seorang musisi yang brilian dan produktif menghasilkan karya, melainkan juga sebuah pribadi yang sangat kontroversial: mulai dari keterlibatannya di Misanthropic Luciferian Order (MLO), terlibat kasus pembunuhan dan mendekam selama 6 tahun di penjara, sampai ke kematiannya yang seperti sebuah bunuh diri ritualistik di tahun 2006.

Dissection CDs 2

Melodius Bukan Berarti Mellow atau Sell-Out

Kejeniusan dan kegilaan dalam musik dan seni kadang-kadang memang mempunyai batasan yang tipis. Selama karirnya sebagai seorang musisi, Jon Nödtveidt dan Dissection menghasilkan 3 album yang menjadi legacy Swedia di skena Black Metal dunia: “The Somberlain” (1993), “Storm of the Light’s Bane” (1995), dan “Reinkaos” (2006). “The Somberlain” dan “Storm of the Light’s Bane” adalah termasuk ke dalam ‘Top 100 Black Metal Albums of All Time’ versi Decibel Magazine, dimana hal ini menegaskan pentingnya posisi Dissection di skena Black Metal dunia (Catatan: “Reinkaos” yang dirilis pada tahun 2006 adalah lebih tepat disebut sebagai Melodic Death Metal). Bersama ini saya ingin mengajak para pembaca untuk melakukan napak tilas album “Storm of the Light’s Bane” yang dirilis di tahun 1996, yang merupakan sebuah album Melodic Black Metal yang sangat dihormati di kalangan penggemar Extreme Black Metal, karena melodius ala Dissection justru membuat sound mereka menjadi semakin gelap dan mengerikan. Liukan melodi gitar dengan aura gelap dan evil, terkadang justru menyampaikan maksudnya dengan lebih baik ketimbang gemuruh blast beats.

Jon Nodtveidt

Storm of the Light’s Bane: Revisited

Perkenalan saya dengan Dissection adalah di tahun 1996, melalui sebuah katalog Nuclear Blast Records dengan artwork “Storm of the Light’s Bane” sebagai cover-nya. Album Dissection yang pertama kali saya dengar juga adalah album ini, yaitu dalam bentuk kaset, yang merupakan mailorder dari seorang teman melalui katalog tadi. Sekali lagi, saya memang hanya ‘menumpang dengar’ ketika itu 😀 . Mailorder yang saya lakukan saat itu memang hanya untuk band-band yang sudah familiar dengan saya, seperti Marduk, Absu, Immortal, Impaled Nazarene, atau band Death Metal seperti Deicide dan Grave (those days! 😀 ). Sementara Dissection adalah hal yang baru bagi saya pada saat itu. Dan alangkah terkejutnya saya ketika itu, mendapati bahwa sound Black Metal yang dingin dan evil dapat ditampilkan dalam bentuk yang melodius seperti halnya “Storm of the Light’s Bane”.

At the Fathomless Depths – 01:56

Track instrumental “At the Fathomless Depths” membuka “Storm of the Light’s Bane”. Di sini saya pertama kalinya berkenalan dengan Dissection sound, berikut tekstur pada distorsi gitarnya yang membuka track ini. Permainan gitar yang melodius meliuk-liuk dengan latar belakang perkusi memberikan isyarat bahwa sesuatu yang besar akan terjadi. Pada track ini saya sudah cukup terkesima, ternyata aura dingin dan evil bisa ditampilkan tanpa keyboards atau sampel yang menyerupai sebuah film horor. Jon Nödtveidt sudah cukup banyak ‘berbicara’ dengan permainan gitarnya yang melodius. Kenapa hal ini bisa terjadi? Kata kuncinya adalah Dissection sound, yaitu sebuah kombinasi yang kompleks antara permainan gitar Jon Nödtveidt dan pemilihan sound distorsi yang tepat dari Dan Swano, sang sound engineer.

Cara terbaik untuk menikmati “Storm of the Light’s Bane” adalah dengan mendengarkannya dalam kondisi se-relax mungkin, dan membiarkan komposisi musiknya merasuki jiwa anda yang akan membawa anda ke alam Skandinavia yang beku dan mematikan. Dimana hal ini sudah dimulai dari intro album, yaitu “At the Fathomless Depths”.

Johan Norman

Night’s Blood – 06:40

Dibuka dengan riffing yang sangat dipengaruhi oleh Thrash Metal ala Eropa (Teutonic Thrash: Kreator & Sodom). Pelan namun pasti track ini menemukan jiwa Black Metal-nya, terutama ketika vokal Jon diperdengarkan untuk pertama kalinya. Vokal Jon tidaklah mengambil template standar 2nd Wave Black Metal, melainkan lebih seperti Tom Angelripper dengan efek echo untuk memberikan kesan cold dan grim. Dan Swano di belakang meja mixer menggunakan pendekatan yang sama dengan vokal pada Marduk “Opus Nocturne”. Hasilnya: dingin dan suram! Ole Öhman di belakang drum kit bermain dengan seimbang, mengkombinasikan ketukan Thrash-style dengan beberapa bagian blast beats. Sementara Peter Palmdahl cenderung untuk mengikuti pola permainan gitar dengan cabikan bass-nya. Permainan gitar akustik di pertengahan track ini berikut kombinasi yang kuat antara riffing dan melodi, yang menjadikan track ini sebagai track pembuka dengan wow-factor yang kuat.

“Night’s Blood” merepresentasikan langit Skandinavia di malam yang gelap, dingin, dan diabolical. Kultur Skandinavia memang sangat dekat dengan hal-hal supra natural dan sorcery.

Unhallowed – 07:29

Track yang paling cepat mendapatkan perhatian saya ketika pertama kali mendengarkan “Storm of the Light’s Bane”. Kenapa? Klasik, track ini dibuka dengan riffing gitar dan blast beats! Sebagai penggemar Black Metal yang pada saat itu sangat terpengaruh oleh Marduk “Opus Nocturne”, tentunya preferensi saya saat itu adalah tidak jauh-jauh dari sound yang blast beats intensive. Akan tetapi dengan Dissection saya mendapatkan tidak saja sound yang agresif melainkan juga beberapa Thrash riffing dan pengaruh Swedish Death Metal/ Gothenburg sound yang kental. Permainan gitar solo yang melodius dan berkelas pada 03:26 sampai dengan 04:19 memberikan isyarat bahwa Jon Nödtveidt adalah seorang gitaris yang (ketika itu) lebih kompleks dan advanced dibandingkan dengan Morgan Hakansson (Marduk) atau Mikael “Lord Ahriman” Svanberg (Dark Funeral).

“Unhallowed” adalah salah satu dari track yang paling kental pengaruh Norwegian Black Metal-nya, yang dikomposisikan secara megah dengan pengaruh-pengaruh yang lebih luas dan kompleks. “Unhallowed” adalah ibarat badai es yang beku dan mematikan di dataran Skandinavia yang memang tidak ramah untuk kehidupan.

Peter Palmdahl

Where Dead Angels Lie – 05:51

Petikan gitar akustik membuka “Where Dead Angels Lie”. Sekilas ada jiwa Kirk Hammet dari era “Ride the Lighning” pada dentingan senar gitar pembuka track ini. Kemudian masuk permainan gitar yang melodius dan mendayu-dayu dari Jon Nödtveidt dan Johan Norman. Melodius, dengan sedikit vibe Blues di beberapa bagian. Track ini adalah bertempo lambat dan seperti menjadi ajang Jon dan Johan untuk memamerkan permainan melodius mereka, sekaligus memperlihatkan pola-pola melodi yang ‘diizinkan’ untuk Black Metal, dimana melodi yang dimainkan adalah cukup kompleks dan teknikal, akan tetapi masih mempunyai jiwa yang murung, melankolis, dingin, dan gelap. Sangat berbeda dengan permainan melodius dari rekan-rekan mereka sesama Swedia yang memainkan Death Metal.

Permainan melodius ala Jon Nödtveidt dan Johan Norman di track ini akan membuat pribadi-pribadi dengan telinga yang paling ekstrim sekalipun akan bergidik karena ngeri. Permainan gitar akustik dan teriakan ketakutan dari personifikasi angel di penghujung track ini yang diikuti dengan low pitch screaming dari Jon Nödtveidt menjadi bagian yang paling memorable bagi para fans Black Metal. Dingin dan mengerikan tanpa harus mengumbar sound effect bertema horor. Cukup dengan permainan gitar akustik dan permainan gitar yang melodius dengan distorsi yang tepat! Sekali lagi, Dissection sound!

Retribution: Storm of the Light’s Bane – 04:51

“Retribution” adalah sebuah track yang penuh transisi. Dibuka dengan rhythm dan drumming yang sangat 2nd Wave Black Metal, kemudian tiba-tiba bertransisi menjadi old school Thrash (seperti riffing yang diambil dari “Extreme Aggression” atau album made in Germany lainnya). Perhatikan bahwa dalam beberapa bagian, nuansa atmospheric diciptakan melalui instrumen gitar. Sebuah peranan yang dalam banyak kasus di Black Metal adalah diisi dengan keyboards. Melodi dan gitar solo pada 03:05 sampai 03:35 menunjukkan kelas Dissection sebagai band yang juga mengeksploitasi gitar serta berorientasi teknikal dalam dosis yang tepat untuk kategori Black Metal.

Ole Ohman

Thorns of Crimson Death – 08:06

Track dengan durasi terlama di “Storm of the Light’s Bane”. Dibuka dengan petikan gitar yang sungguh ganjil, dan bluesy. Apakah Jon Nödtveidt juga mendengarkan Gary Moore atau BB King? 😀 Kemudian dimulailah duet gitar klasik dengan style Heavy Metal Eropa: rhythm dan melodi sahut menyahut dalam nuansa epic. Thrashy riffing kembali mengiringi vokal Jon, dengan masih ditemani permainan melodi yang sesekali muncul di balik dinding distorsi. Menjelang pertengahan track ini kita akan mendengarkan duet gitar yang sangat Iron Maiden, yang kemudian langsung disambut blast beats yang agresif. Petikan gitar akustik dan sampel gemuruh petir menjadi transisi sebelum departmen gitar kembali unjuk gigi dengan permainan melodi yang kali ini made in Sweden: Gothenburg sound!

“Thorns of Crimson Death” adalah track dengan karakter terkuat di album ini. Track ini ibarat sebuah mosaik dari luasnya wawasan Jon Nödtveidt dan Johan Norman melalui permainan gitar mereka. Sebuah track yang sangat berorientasi gitar akan tetapi sama sekali tidak terdengar seperti sebuah tutorial atau seperti materi workshop 😀, melainkan masih dengan wujud 2nd Wave Black Metal yang ditampilkan dengan sangat megah. Saya sama sekali tidak sadar kalau backing vocals untuk track ini adalah melibatkan Erik “Legion” Hagstedt dari Marduk. Ah, siapa yang akan peduli? Karena semua perhatian akan terfokus pada permainan gitar Jon Nödtveidt dan Johan Norman.

“Thorns of Crimson Death”, audio streaming:

Soulreaper – 06:57

“Soulreaper” adalah track yang mengadopsi pendekatan Norwegian Black Metal dengan porsi yang paling besar relatif terhadap track lainnya. Jon Nödtveidt dan Johan Norman lebih banyak bermain cepat dengan riffing yang mematikan, yang merupakan ciri khas dari pendekatan Norwegia. Memang masih ada selipan melodi di beberapa bagian, bahkan petikan gitar akustik di belakang ‘dinding’ distorsi pada 02:51 sampai dengan 03:14. Akan tetapi porsi melodi masih sangat minimal. “Soulreaper” adalah track yang paling ‘marah’ di album ini. Cepat, agresif, sekaligus beku dan mengerikan.

No Dreams Breed in Breathless Sleep – 01:26

Track yang lebih bersifat sebagai outro untuk “Storm of the Light’s Bane”, yang merupakan sebuah aransemen permainan piano oleh Alexandra Balogh, sang musisi tamu. Dentingan piano klasik dari Alexandra menutup album ini dengan representasi emosi yang murung, sedih, sekaligus megah. Sebuah hints bahwa musikalitas Jon Nödtveidt dan kawan-kawan juga banyak dipengaruhi oleh musik klasik.

Dissection Band 1995 2

Storm of the Light’s Bane: Sebuah Cetak Biru untuk Melodic Black Metal

Legacy seperti apa yang ditinggalkan oleh Dissection melalui “Storm of the Light’s Bane”? Legacy album ini adalah dalam pendekatan melodius di dalam struktur musik mereka. Melodi di dalam aransemen Extreme Metal akan memberikan efek cheesy apabila diekspos secara berlebihan (seperti martabak manis yang kebanyakan keju :-D. Contohnya? Tidak usah saya sebutkan di sini). Sebaliknya, band yang minim melodi haruslah menjadi riff-master untuk tetap mendapatkan perhatian pendengarnya (Contohnya: Marduk, Dark Funeral, Darkthrone). Akan tetapi untuk kasus Dissection adalah equilibrium di keduanya: baik Jon Nödtveidt maupun Johan Norman berhasil menyeimbangkan komposisi riffing dan melodi dalam takaran yang tepat. Terkadang mereka terdengar seperti duet Mille Petrozza/ Frank Gosdzik. Akan tetapi pada lain kesempatan malah seperti Dave Murray/ Adrian Smith/ Janick Gers. Plus beberapa komposisi akustik yang berhasil memberikan karakter tersendiri di dalam arensemen musik mereka. Dissection dan “Storm of the Light’s Bane” telah mendefiniskan ulang peranan melodi gitar di dalam aransemen Black Metal modern.

JON NÖDTVEIDT

Jon Nödtveidt, di tahun 2006.

Storm of the Light’s Bane: Puncak dari Kejeniusan Bermusik Jon Nödtveidt

“Storm of the Light’s Bane” seolah-olah menutup diskografi Dissection yang singkat, namun fenomenal dan menorehkan pengaruh yang signifikan di dalam perkembangan Black Metal/ Extreme Metal di tahun-tahun sesudahnya. Seperti yang sudah diceritakan di awal tulisan ini, Jon Nödtveidt juga terlalu banyak menghabiskan waktu produktifnya untuk hal-hal yang bersifat self destruction, mulai dari organisasi occult kekanak-kanakan seperti MLO, sampai keterlibatannya di kasus pembunuhan yang mengkonsumsi waktu produktif Jon sampai 6 tahun di dalam penjara. Setelah itu? Visi artistik dan musikalitas Jon tidaklah lagi sama. Jon cenderung berkarat di dalam penjara. Sehingga pada periode setelah kebebasannya dari penjara (2004), Jon ‘hanya’ bisa menghasilkan “Reinkaos” (2006) yang biasa-biasa saja, dan sama sekali bukan Black Metal (lebih tepat disebut sebagai Melodic Death Metal). Akan tetapi masalahnya bukanlah mengenai ‘Black’ atau ‘Death’, melainkan lebih ke komposisi dan pendekatan musik Jon yang seperti menguap ditelan sang waktu. “Reinkaos” adalah sebuah album yang tidak buruk, melainkan cukup baik untuk kelas Melodic Death Metal. Akan tetapi publik Black Metal tentunya berharap Jon akan menghasilkan komposisi musik yang lebih megah dan bersifat masterpiece/ mahakarya, berkaca ke karya-karya Jon sebelumnya. Sebuah album yang ‘cukup baik’ tidaklah cukup baik untuk musisi sekelas Jon Nödtveidt. Sehingga ketika Jon meledakkan kepalanya sendiri di tahun yang sama ketika “Reinkaos” dirilis (2006), publik Extreme Metal pun paham bahwa Jon memang bukanlah orang yang sama yang mengkomposisikan “The Somberlain” atau “Storm of the Light’s Bane”, dan pikirannya memang sudah bukan pada karyanya. Sungguh sayang seribu sayang.

Beristirahatlah dengan tenang, Jon Nödtveidt. Teriring salam untuk Jeff Hannemann, Ronnie James Dio, dan Jimi Hendrix di seberang sana!

Musisi:

  • Jon Nödtveidt (R.I.P. 2006) – Guitars (lead, rhythm & acoustic), Vocals, Lyrics
  • Ole Öhman – Drums
  • Peter Palmdahl – Bass
  • Johan Norman – Guitars (rhythm)

Musisi Tamu:

  • Alexandra Balogh – piano
  • Legion – backing vocals on “Thorns of Crimson Death”
  • Tony Särkkä – backing vocals on “Soulreaper”

Tracks:

  1. At the Fathomless Depths – 01:56 (Instrumental)
  2. Night’s Blood – 06:40
  3. Unhallowed – 07:29
  4. Where Dead Angels Lie – 05:51
  5. Retribution: Storm of the Light’s Bane – 04:51
  6. Thorns of Crimson Death – 08:06
  7. Soulreaper – 06:57
  8. No Dreams Breed in Breathless Sleep – 01:26 (Instrumental)

Recording Studio: Hellspawn/ Unisound Studio (Finspång, Swedia) 17 – 30 Maret 1995

Production/ Engineering: Dissection/ Dan Swano

Categorized as: Melodic Black Metal, 2nd Wave Black Metal, Swedish Black Metal

Label: Nuclear Blast Records


Kredit Foto:

  • Dissection band photo oleh cvcomics.com.
  • Cover “Storm of the Light’s Bane” oleh metal-archives.com
  • CD Dissection dalam berbagai pressing oleh Supriyanto “Desecrator”
  • Dissection band members oleh metal-archives.com
  • Banner Dissection oleh nuclearblast.com
  • Jon Nödtveidt 1995 oleh pinterest.com

Tentang Penulis

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Riki Paramita adalah founder, owner, dan penulis utama di Beyondheavymetal.com. Riki adalah pemerhati musik dan skena Extreme Metal, terutama untuk kategori Black Metal, Death Metal, dan Thrash Metal. Tujuan utama dari inisiatif Beyondheavymetal.com adalah untuk memperbanyak informasi mengenai rilisan anyar dan klasik untuk kategori musik Extreme Metal, sehingga informasi berbahasa Indonesia yang ditulis dengan bahasa yang baik, ringan, dan terstruktur mengenai rilisan-rilisan musik kategori ini tidak lagi relatif susah didapat, dan pada akhirnya dapat saling berbagi informasi dengan sesama penggemar. Dalam kesehariannya, Riki adalah konsultan Teknologi dan Manajemen Sistem Informasi yang sangat aktif terlibat di berbagai proyek baik untuk skala nasional maupun internasional.

6 thoughts on “DISSECTION “Storm of the Light’s Bane” (1995): Ketika Menjadi Melodius Adalah Berarti Menjadi Lebih Gelap dan Mengerikan

  1. hehe….’menumpang’
    :D:D

    Dan pencarian karakter yang sama dari “Storm…” ini berlanjut ke “Through the Midnight Spheres” nya Naglfar dan klimaks-nya di “Diabolical”

    • “Through the Midnight Spheres”? Oh, maksudnya “Vittra” (1995). Agree. Naglfar puncaknya memang di “Diabolical” (1995). Tapi di “Sheol” (2003) juga masih OK. Next review? 😀

  2. Project review pertama tetap Misery Index – The Killing Gods 😀

    Melodic Blackened Death pelan-pelan surut setelah Jon N. bunuh diri. Sepertinya gap antara perintis dan penerus genre ini tidak berjalan bagus bahkan Naglfar sekarang pun rasanya juga tidak seasik sebelumnya.
    Kondisi ini kaya2nya hampir sama dengan genre Melodeath, band2 penerus dari trinity Gothenburg Sound bisa dibilang tidak ada yang setara dengan penerusnya, yang ada malah pencampuran gaya tersebut ke Metalcore dan bagi “telinga lama” agak susah nerima-nya (telinga lama = telinga saya).
    Ngga begitu tau dengan BM, namun transisi penerus genre yang berjalan konsisten memang ada di ranah-nya (Brutal) Death Metal dan Grindcore.

Leave a reply to Riki Cancel reply