DREAM THEATER dan “Dream Theater” (Self Titled, 2013)

Dream Theater-S:TArticle written by: Riki Paramita

Sebuah self titled album, apabila dirilis setelah sebuah band eksis di genre-nya (dengan beberapa album) adalah lebih dari sekedar album ‘berikutnya’ melainkan sudah menjadi sebuah personal statement: sebuah personal statement tentang eksistensi, differensiasi dalam bermusik, perspektif pemikiran, dan seringkali menjadi semacam summary dari eksistensi band tersebut secara keseluruhan. Sebuah penegasan mengenai identitas dari band itu sendiri: sebuah album yang apabila didengarkan, diharapkan akan memberikan deskripsi yang relatif komprehensif dari band tersebut, dan tidak hanya berisikan tema atau topik yang seringkali bersifat diskret yang ditampilkan pada album-album ‘biasa.’ Singkat kata, sebuah self titled (terutama apabila bukan album yang pertama) akan memberikan tekanan psikologis tersendiri ke band yang bersangkutan untuk menghasilkan sebuah masterpiece dimana hal ini hanya bisa dilakukan apabila band tersebut sudah cukup mature dalam konsep bermusik dengan degree of musicianship yang relatif tinggi dari masing-masing personil band tersebut. Contoh yang paling representatif untuk sebuah self titled yang menjadi masterpiece tentunya adalah milik Metallica: sebuah album yang bersifat breakthrough dan berhasil mengangkat band tersebut ke tingkatan yang lebih tinggi dengan fan base yang lebih luas. Bagaimana dengan self titled dari sang raksasa Progressive Metal, Dream Theater?

Dream Theater-S:T Song List

Seluruh fans Metal (tidak hanya Progressive) sangat menantikan rilisan self titled mereka. Hari ini, 23.09.2013 adalah tanggal dirilisnya album self titled mereka, dan setelah satu kali spin (baru versi digital, official release, berikut 15 halaman digital booklet, versi CD masih on the way), saya berpendapat bahwa Dream Theater  self titled adalah sebuah masterpiece absolut: mulai dari intro yang sangat megah di “False Awakening Suite”, dilanjutkan dengan track yang menjadi teaser yaitu “The Enemy Inside”, “The Looking Glass” yang easy listening, sebuah track bertempo lambat & cenderung ballad yang mencuri perhatian di “The Bigger Picture”, “Behind The Veil” yang murung, “Surrender to Reason” dan “Along for The Ride” yang cenderung mellow (tetapi tetap gagah, the progressive way), sampai mencapai klimaksnya di epik “Illumination Theory” yang terdiri dari 5 bagian dan berdurasi lebih dari 20 menit (tepatnya 22:18).

Dream Theater-S:T Band Photo

Walaupun secara keseluruhan terkesan ‘kurang metal’ (relatif terhadap rilisan sebelumnya, misalnya “Black Clouds & Silver Linings” 2009, sebagai pembanding yang fair dan cenderung untuk meneruskan konsep seperti di “Dramatic Turn of Events” 2011) akan tetapi Dream Theater self titled tetaplah sebuah rilisan yang brilian. Tidak, tulisan saya kali ini tidaklah sebuah review, melainkan hanya sebuah impresi kekaguman saya terhadap rilisan terbaru Dream Theater sebagai sebuah album yang pantas mendapatkan standing ovation. Album ini menjadi alasan yang sangat valid bagi saya untuk (sementara) meninggalkan Black Metal dan Death Metal dan fokus ke karya terbaru dari sang maestro Progressive Metal.

To be continued: an in depth review.

Leave a comment